Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Islam. Show all posts

Wednesday, September 2, 2020

Sejarah Singkat Penulisan dan Penghimpunan Al-Qur'an

Sejarah Singkat Penulisan dan Penghimpunan Al-Qur'an 


    Al-Qur'an merupakan kitab suci bagi umat Islam yang diwahyukan Allah melalui malaikat Jibril dan disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur'an merupakan pedoman bagi seluruh umat Islam di muka bumi ini, karena didalamnya berisikan segala bentuk perintah maupun larangan yang difirmankan Allah SWT.

    Sebagai umat Islam, sudah semestinya kita wajib menjaga keutuhan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan cara membaca dan mengamalkan isi-isi yang ada didalam kandungan ayat Al-Qur'an tersebut, hal ini kita lakukan demi menunjukkan rasa cinta dan patuh kita kepada Allah SWT, serta menghargai jasa para pendahulu kita seperti para sahabat Rasulullah yang senantiasa menghimpun Al-Qur'an tanpa kenal lelah.

    Mengenai penghimpunan Al-Qur'an, didalam artikel ini penulis akan merangkum Sejarah Singkat Penulisan dan Penghimpunan Al-Qur'an pada zaman Rasulullah dan para sahabatnya dahulu.





Al-Qur'an di Turunkan Secara Berangsur-angsur


    Pada zaman Rasulullah SAW, Al-Qur'an dirturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril tidak sekaligus, melainkan sesuai dengan kebutuhan. Seperti saat para sahabat melontarkan pertanyaan kepada Nabi Muhammad SAW, pada saat inilah wahyu sering turun untuk membantu Rasulullah SAW menjawab pertanyaan dari para sahabat.

Turunnya ayat Al-Qur'an secara benrangsur-angsur ini juga memiliki hikmah tersendiri, antara lain :

  • Pertama, Membantu Rasulullah SAW untuk memantapkan hati saat sedang berdakwah, karena dulu Rasulullah SAW sering berhadapan dengan para penentang yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dengan tujuan melemahlkan Nabi Muhammad SAW. Tetapi lewat wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, pertanyaan itu seolah berbalik menentang mereka, hal itu sekaligus merupakan salah satu mukjizat yang ada pada Al-Qur'an.
  • Kedua, Memudahkan untuk dihapal dan dipahami ditengah-tengah masyarakat yang pada saat itu sulit untuk memahami bacaan maupun tulisan karena kurangnya ilmu pengetahuan. Dengan turunnya wahyu secara berangsur-angsur ini masyarakat tersebut dapat lebih mudah untuk memahami sekaligus mengapalnya.

Penghimpunan Al-Qur'an Pada Masa Nabi Muhammad SAW


    Nabi Muhammad SAW sangat merindukan kedatangan wahyu kepadanya, sampai-sampai ketika wahyu itu datang Nabi Muhammad SAW langsung menghafal dan memahaminya. Tindakan itupun sekaligus menjadi suri teladan dan diikuti oleh para sahabatnya.

    Selain mengekspresikan kerinduannya terhadap wahyu yang diturunkan Allah dengan cara menghafal, Nabi Muhammad SAW juga mengkspresikannya dalam bentuk tulisan. Proses penulisan itu sendiri dibantu juga oleh para sahabat Rasulullah SAW, diantaranya Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Ibn Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abban bin Sa'id, Khalid bin Sa'id, Khalid bin al-Walid, dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan.


    Kegiatan menulis Al-Qur'an itu tidak hanya dilakukan oleh ketujuh sahabat itu saja, para sahabat lainpun ikut membantu menulisnya. Pada saat itu, mereka menulis dengan menggunkan alat tulis yang sederhana berupa lontaran kayu, pelepah kurma, tulang belulang, dan batu.

    Menulis merupakan caara yang paling sempurna untuk mempresentsaikan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, karena jika hanya mengandalkan hapalan para sahabat saja tidak cukup, terkadang mereka lupa atau sebagian dari mereka sudah wafat. Oleh karena itu, adapun tujuan dari tulisan ini untuk menjaga agar tetap terpelihara keasrian ayat-ayat suci Al-Qur'an tersebut.

Penghimpunan Al-Qur'an Pada Masa Khalifah Abu Bakar


Abu Bakar adalah orang yang pertama kali menghimpun Al-Qur'an dalam satu mushaf. Pengumpulan tulisan Al-Qur'an itu dilakukannya pada tahun 12 H, tepat setelah berakhirnya perang Yamamah. Bukan tanpa alasan, Abu Bakar menghimpun Al-Qur'an karena pada saat itu, kelestarian Al-Qur'an sedang terancam akibat meninggalnya 700 orang sahabat penghafal Al-Qur'an pada saat perang Yamamah tersebut.

Dalam hal ini, Umar Ibn khaththab juga mempunyai peran penting, karena dialah yang mengusulkan kepada Abu Bakar untuk segera menghimpun Al-Qur'an dari berbagai sumber, baik dari hafalan maupun tulisan. Abu Bakar pun langsung memerintahkan  Zaid bin Tsabit untuk membantu menghimpun Al-Qur'an. Zaid bin Tsabit sendiri adalah salah seorang sekretaris Nabi Muhammad SAW.


Dalam melaksanaka tugasnya, Zaid menetapkan kriteria yang ketat untuk setiap ayat yang dikumpulkannya. Zaid tidak menerima ayat yang hanya berdasarkan hafalan tanpa didukung tulisan. Sikap kehati-hatian Zaid dalam menghimpun Al-Qur'an juga atas dasar pesan dari Abu Bakar untuk Zaid dan Umar.

Proses penghimpunan yang ditugaskan kepada Zaid itupun dapat diselesaikannya dalam waktu kurang lebih satu tahun, yaitu pada tahun 13 H, pekerjaan itu juga dilakukan dibawah pengawasan Abu Bakar, Umar Ibn Khaththab, dan para tokoh sahabat yang lain. Setelah sempurna, kemudian lewat musyawarah, tulisan Al-Qur'an yang sudah terkumpul itu dinamakan menjadi "Mushaf".

Setelah Abu Bakar wafat, Al-Qur'an yang sudah dihimpun  itupun disimpan Khalifah Umar, dan ketika Umar wafat, mushaf itu dipercayakan Umar kepada Hafsah untuk menyimpannya. Hafsah sendiri merupakan istri dari Nabi Muhammad SAW.

 

 

Monday, August 31, 2020

History Ali bin Abi Thalib Sebagai Khalifah Ke Empat

History Ali bin Abi Thalib Sebagai Khalifah Ke Empat


    Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah ke empat setelah wafatnya Utsman bin Affan. Ali bin Abi Thalib sendiri merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW. Selain itu ia juga menjadi menantu Nabi Muhammad SAW karena Ali bin Abi Thalib menikahi putri Nabi Muhammad SAW yaitu Fatimah.

    Pengangkatan Ali sebagai khalifah tidak semulus seperti pengakatan khalifah sebalumnya. Ali di bai'at ditangah suasana hiruk pikuk atas meninggalnya khalifah sebelumnya yaitu Utsman bin Affan. Di bawah ini penulis akan menjabarkan bagaimana kisah pengangkatan khalifah Ali bin Abi Thalib serta bagaimana suasana pada masa kekhalifahaannya yang telah di ambil dari beberapa sumber.




Biografi Ali bin Abi Thalib


    Ali bin Abi Thalib lahir pada tanggal 13 Rajab 599 Masehi di daerah Hejaz yang berada di Mekkah. Ali bin Abi Thalib merupakan putra dari Abi Thalib Ibn Abdul Muthallib dan dia temasuk sepupu Nabi Muhammad SAW. Ali bin Abi Thalib juga merupakan menantu Nabi Muhammad SAW karena ia menikahi anak dari Nabi Muhammad SAW yaitu Fatimah.

    Ali bin Abi Thalib termasuk orang yang pertama kali masuk Islam dari golongan pria, ia masuk Islam pada saat usianya masih sangat muda. Ada yang pendapat yang mengatakan bahwa saat nabi menerima wahyu pertama, Ali bin Abi Thalib masih berusia 13 tahun, ada juga yang berpendapat saat itu usia Ali masih 9 tahun.


    Ali bin Abi Thalib adalah orang yang dipercayai sebagai penasihat pada zaman khalifah-khalifah sebelumnya, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan. Beliau diangkat menjadi penasihat karena menurut para sahabat Ali bin Abi Thalib adalah orang yang pandai dan bijaksana.

Pengangkatan Ali bin Abi Thalib Sebagai Khalifah


    Pembai'atan Ali bin Abi Thalib tidak semulus pembai'atan khalifah-khalifah sebelumnya, Ali bin Abi Thalib di bai'at di tengah pertentangan dan kekcauan yang terjadi pada umat Islam di Madinah akibat meninggalnya Utsman bin Affan.

    Kaum pemberontak yang membunuh Utsman bin Affan mendaulat Ali bin Abi Thalib untuk bersedia di bai'at menjadi khalifah. Sebelumnya kaum pemberontak mendatangi para sahabat satu persatu, seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Umar bin Khaththab. Mereka meminta agar salah satu diantara para sahabat tersebut untuk menjadi khalifah, namun para sahabat tersebut menolak.

    Tak hanya kaum pemberontak yang menginkan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, tetapi kaum Anshar dan Muhajirin juga meminta Ali bin Abi Thalib bersedia di bai'at menjadi khalifah. Tetapi Ali menolak, karena Ali mau agar urusan itu diselesaikan melalui musyawarah dan harus mendapat persetujuan dari para sahabat.

    Karena suasana yang sangat kacau pada saat itu, massa rakyat mengemukakan bahwa umat Islam harus segera memiliki pemimpin agar tidak terjadi kekacauan yang lebih besar, akhirnya Ali pun bersedia di angkat menjadi khalifah. Proses pembai'atan Ali bin Abi Thalib pada saat itu di mayoritasi oleh kaum Muhajirin dan Anshar, seta beberapa sahabat, seperti Thalhah dan Zubair 

Sejarah Singkat Masa Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib


    Pemerintahan pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib kala itu sangat tidak stabil, pasalnya banyak pemberontakan yang terjadi dari kelompok kaum muslimin sendiri. Salah satunya adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Thalhah, Zubair dan Siti Aisyah. 

    Siti Aisyah bergabung dengah Thalhah dan Zubair untuk menentang khalifah ali dengan alasan penolakan Ali menghukum pembunuh Utsman. Muawiyah juga turut andil dalam pemberontaka ini, mereke berusaha untuk menurunkan kredibilitas khalifah di mata umat Islam dengan cara menuduh bahwa khalifah berada dibalik pembunuhan khalifah Utsman.


    Khalifah Ali bin Abi Thalib telah berusaha untuk menghindari peperangan yang terjadi, tetapi beliau tidak berhasil. Sampai pada akhirnya terjadi pertempuran antara pasukan Thalhah, Zubair, dan Aisyah melawan pasukan khalifah Ali bin Abi Thalib. Peperangan itu terjadi pada tahun 36 H. Thalhah dan Zubair terbunuh dalam peperangan itu pada saat mereka mencoba melarikan diri, sementara Aisyah dikembalikan ke madinah. 

    Banyak pemberontakan yang terjadi pada zaman khalifah Ali bin Abi Thalib, sampai pada akhirnya Ali bin Abi Thalib meninggal akibat  dibukul oleh Abdurrahman pengikut setia kaum Khawarij. Sebelumnya kaum Khawarij memeng sudah merencanakan untuk membunuh Ali bin Abi Thalib.

    Aksi pembunuhan yang dilakakukan kaum Khawarij terhadap Ali bin Abi Thalib itu bermaksud untuk balas dendam atas kematian keluarga seorang wanita teman dari Abd Ar-Rahman Ibn Muljam yang terbunuh di Nahrawan.

REFERENSI :

Asy-Syalab, At-Tarikhu Al-Islami Wa-Alhadlii-atu Al-Islamiyah, Terj. Prof. DR. Muhtar Yahya
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Cet. ke-1, (Bandung : Pustaka Setia, 2008).






 

Sunday, August 30, 2020

Perjalanan Utsman bin Affan Sebagai Khalifah Ke Tiga

Perjalanan Utsman bin Affan Sebagai Khalifah Ke Tiga 


    Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abd Al-Manaf atau biasa kita kenal dengan sebutan Utsman bin Affan merupakan khalifah ketiga setelah Umar Ibn Khaththab. Beliau menjadi khalifah selama 12 tahun lamanya (644-656 M) dan merupakan khalifah yang paling lama memerintah dibandingkan dengan khalifah-khalifah lainnya.

    Selanjutnya dibawah ini penulis akan membahas lebih detail lagi tentang kekhalifahan yang terjadi pada masa Utsman bin Affan yang telah penulis rangkum dari beberapa referensi.




Riwayat Hidup Utsman bin Affan

    Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abd Al-Manaf (Utsman bin Affan) lahir pada tahun 576 M. Ibunya bernama Urwy bin Kuraiz bin Rabi'ah bin Habib bin Abdi Asy-syams bin Abd Al-Manaf. Utsman bin Affan berasal dari suku Quraisy sama halnya dengan Umar Ibn Khaththab, beliau masuk Islam pada umur 30 tahun atas ajakan Abu Bakar.

    Saat diangkat menjadi khalifah, Utsman bin Affan berusia tujuh puluh tahun. Utsman dijuluki Dzun Nurain, karena dia menakihai dua putri Rasulullah SAW secara berurutan setelah yang satu meninggal. Kedua putri Rasulullah SAW itu yakni Ruqayyah dan Ummi Kalsum. 


    Utsman bin Affan juga pernah mengikuti beberapa peperangan pada zaman Nabi Muhammad SAW diantaranya, perang Uhud, Khaibar pembebasan kota Mekah, Perang Thaif, Hawazin, dan Tabuk. Utsman bin Afaan tidak mengikuti perang Badar karena dia diperintahkan oleh Rasulullah untuk menunggu istrinya yang sedang sakit sampai meninggal.

Pengangkatan Utsman bin Affan Menjadi Khalifah

    Utsman bin Affan diangkat menjadi seorang khalifah lewat skema yang dibuat oleh Umar Ibn Khaththab. Sebelum meninggal, Umar Ibn Khaththab telah memanggil tiga calon penggantinya, yaitu utsman, Ali, Sa'ad Abi Waqqash. Sebelum itu, Umar Ibn Khaththab telah menunjuk 6 sahabat untuk menjadi dewan formatur, mereka adalah Ali, Utsman, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abd Qr-Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Dewan formatur ini ditugasakan oleh Umar Ibn Khaththab untuk memilih penggantinya.

Ada tiga mekanisme yang ditentukan dalam memilih seorang khalifah saat itu, mekanismenya adalah :
  • Yang berhak menjadi seorang khalifah adalah orang yang dipilih langsung oleh anggota formatur dengan suara terbanyak.
  • Apabila suara tertinggi berimbang, maka Abdullah bin Umar yang berhak menentukannya.
  • Apabila campur tangan Abdullah bin Umar tidak diterima, calon yang dipilih oleh Abd Ar-Rahman bin Auf harus diangkat menjadi khalifah.
Pada saat Umar Ibn Khaththab wafat, Abd Ar-rahman langsung meminta pendapat kepada anggota formatur secara terpisah untuk membicarakan calon yang tepat untuk diangkat menjadi khalifah. Lewat musyawarah tersebut muncul dua kandidat kuat yaitu Utsman dan Ali.

Abd Ar-Rahman langsung bermusyawarah dengan masyarakat dan sejumlah pembesar di luar anggota formatur. Suara masyarakat kala itu terpecah menjadi dua kubu, Bani Hasyim mendukung Ali dan kubu Bani Umayyah mendukung Utsman.

Abd Ar-Rahman kemudian memanggil Ali dan Utsman secara bergantian untuk menanyakan kepada meraka, sanggupkah mereka melaksanakan tugasnya berdasarkan Al-Qur'an, Sunah Rasul, dan kebijaksanaan dua khalifah sebelumnya, seandainya salah satu diantara mereka terpilih menjadi seorang khalifah.


Ali menjawab bahwa dirinya berharap dapat berbuat sejauh pengetahuan dan kemampuannya. dan Utsman menjawab dengan tegas, "Ya, saya sanggup". Berdasarkan jawaban itu Abd Ar-Rahman menyatakan Utsman sebagai khalifah ketiga, dan segeralah dilaksanakan bai'at .

Kontribusi Utsman bin Affan Terhadap Islam

    Semasa hidupnya Utsman bin Affan terkenal sebagai orang yang saleh dan memliliki rasa sosial yang tinggi. Kesalehannya ini terbukti lewat tulisan Khalid Muh Khalid yang yang menyatakan bahwa untuk shalat dua rakaat saja, Utsman bisa menghabiskan waktu semalaman karena banyaknya ayat Al-Qur'an yang dibacanya. Keshalehan sosialnya juga terbukti ketika Utsman bin Affan membeli telaga Yahudi seharga 12.000 dirham dan menghibahkannya kepada kaum muslimin yang pada saat ia hijrah ke Yastrib.

    Tak hanya itu, Utsman bin Affan juga mewakafkan tanah seharga 15.000 dinar untuk perluasan Masjid Nabawi. Selain itu, beliau juga menyumbang 940 ekor unta, 60 ekor kuda, dan 10.000 dinar untuk keperluan Jaisul Usrah pada perang Tabuk.

    Setiap hari Juma'at, Utsman bin Affan juga membebaskan seorang budak laki-laki dan seorang budak perempuan. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman bin Affan juga menjual barang kebutuhan sehari-hari miliknya dedngan harga yang murah, bahkan ia membagi-bagikannya kepada kaum muslimin.






REFERENSI : 

Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos, 1997)
Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Cet. ke-1, (Bandung : Pustaka Setia, 2008).

Friday, August 28, 2020

Biografi Umar bin Khaththab Khulafaur Rasyddin Kedua

Biografi Umar bin Khaththab Khulafaur Rasyddin Kedua


    Umar Ibn Khaththab merupakan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Dia juga merupakan khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar As-Shiddiq. Umar dikenal sebagai tokoh yang bijaksana, kreatif dan jenius dalam membangun Negara besar yang ditegakkan atas prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Pada artikel kali ini penulis akan menjabarkan  kisah pengangkatan khalifah Umar Ibn Khaththab yang telah diambil dari beberapa sumber dan apa saja yang menjadi faktor pengakatan Umar Ibn Khaththab menjadi khalifah.




Proses Pengangkatan Umar Ibn Khaththab Menjadi Khalifah

    Umar Ibn Khaththab ditunjuk oleh Abu Bakar untuk menjadi khalifah saat Abu Bakar kala itu dimasa jabatannya sedang jatuh sakit. Penunjukan ini tidak diambil oleh sepihak saja, tetapi juga lewat rekomendasi dan saran yang telah disepakati oleh umat.

    Dalam mencari penggantinya, Abu Bakar mengadakan musyawarah ataupun konsultasi dengan beberapa orang sahabat, antara lain, Abdul Rahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan Asid bin Hadhir, seorang tokoh Anshar. Dalam musyawarah tersebutlah Umar Ibn Khaththab terpilih secara objektif oleh para sahabat.

    Tidak cukup sampai disitu, hasil dari musyawarah tersebutpun langsung disampaikan kepada kaum muslimin yang sedang berkumpul di Masjid Nabawi untuk mencapai kesepakatan. Alhasil kaum Muslimin menerima dan menyetujui orang yang telah dicalonkan oleh Abu Bakar yaitu Umar Ibn Khaththab. Setelah Abu Bakar mendapat persetujuan dari kaum Muslimin atas pilihannya, ia langsung memanggil Utsman bin Affan untuk menuliskan teks pengangkatan Umar (bai’at Umar).

Faktor Terpilihnya Umar Ibn Khaththab Menjadi Khalifah

    Sebelumnya, Umar Ibn Khaththab termasuk diantara kaum kafi Quraisy yang paling ditakuti oleh orang-orang yang masuk Islam. Beliau merupakan musuh terbesar dan orang yang sangat membeci Nabi Muhammad SAW. Bahkan sanagat besar keinginannya untuk bisa membunuh Nabu Muhammad SAW dan pengikut-pengikutnya.

    Kepribadian Umar bertolak belakang setelah kepindahannya masuk agama Islampada bulan Dzulhijjah, enam tahun setelah kerasulan Nabi Muhammad SAW. Dia menjadi seorang yang setia membela agama Islam dan bahkan dia menjadi sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW kala itu.


    Umar Ibn Khaththab merupakan khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar Ibn Khaththab ditunjuk langsung oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menggantikannya sebagai seorang khalifah pada masa itu. Penunjukkan ini bukan tanpa sebab, ada beberapa faktor yang mendorong Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjuk Umar Ibn Khaththab menjadi khalifah setelahnya. Faktor-faktor tersebut antara lain :

  • Kekhawatiran peristiwa yang sangat menegangkan di Tsaqifah Bani Sa'idah yang nyaris menyeret umat Islam ke jurang perpecahan akan terulang kembali, bila ia tidak menunjuk seorang yang akan menggantikannya.
  • Kaum Anshar dan Muhajirin saling mengklaim sebagai golongan yang berhak menjadi khlifah.
  • Umar Islam pada saat itu baru saja selesai menumpas kaum murtad dan pembangkang, sementara pasukan mujahidin sedang bertempur di luar kota Madinah melawan tentara Persia di satu pihak dan tentara Romawi di pihak lain.

Konflik Yang Terjadi Pada Masa Pemerintahan Umar Ibn Khaththab

    Dalam masa kekhalifahannya, Umar Ibn Khaththab berhasil membebaskan negeri-negeri jajahan Imperium Romawi dan Persia yang dimulai dari awal pemerintahannya, bahkan sejak pemerintahan sebelumnya. Segala macam tindakan dilalukan untuk menghadapi dua kekuatan itu, tujuannya bukan hanya menyangkut urusan agama saja, namun juga untuk kepentingan politik.


    Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi timbulnya konflik antara umat Islam dengan bangsa Romawi dan Persia yang pada akhirnya mendorong umat Islam melakukan penaklukan negeri Romawi dan Persia, faktor tersebut antara lain :
  • Bangsa Romawi dan Persia tidak menaruh hormat terhadap maksud baik Islam.
  • Semenjak Islam masih lemah, Romawi dan Persia selalu berusaha mengahncurkan Islam.
  • bangsa Romawi dan Persia sebagai Negara yang subur dan terkenal kemakmurannya, tidak berkenan menjalin hubungan perdagangan dengan negeri-negeri Arab.
  • Bangsa Romawi dan Persia bersikap ceroboh menghasut suku-suku Badui untuk menentang pemerintahan Islam dan mendukung musuh-musuh Islam.
  • Letak geografis kekuasaan Romawi dan Persia sangat strategis untuk kepentingan kemanan dan pertahanan Islam.
    Semenjak penaklukan Persia dan Romawi, pemerintahan Islam menjadi adikuasa dunia yang memiliki wilayah kekuasaan luas, meliputi semenanjung Arabia, Palestina, Siria, Irak, Persia dan Mesir.



REFERENSI :

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Cet. ke-1, (Bandung : Pustaka Setia, 2008).
Amir Nurdin, Ijtihad Umar Ibn Al-Khaththab, (Jakarta : Rajawali Press, 1991).




Thursday, August 13, 2020

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq Menjadi Khalifah

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq Menjadi Khalifah   

    Kata “khalifah“ diambil dari bahasa Arab, yang secara harfiah berarti seseorang yang menggantikan kedudukan orang lain karena hilang atau meninggal dunia. Dalam konteks masyarakat Islam kata khalifah berarti pemimpin umat yang menggantikan posisi Rasulullah Saw sebagai pemimpin politik, militer dan segala urusan umat Islam. Sementara itu, kata “Rasyidin” lebih ditekankan pada empat khalifah pasca Rasulullah Saw. Mulai dari Abu Bakar Ash-Shiddiq sampai Ali Ibn abi Thalib yang dipandang sebagai tokoh Islam yang mengagumkan dan adil. Dalam pembahasan ini dibahas secara terperincih salah satu khalifah, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq.



1. Biografi Abu Bakar As-Shiddiq

    Abu bakar ash-shiddiq (nama lengkapnya Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi Al-Qurasyi. Berarti silsilahnya dengan nabi bertemu pada Murrah bin ka’ab). Dilahirkan pada tahun 573 M. dia dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh dan suku yang banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Ayahnya bernama Utsman (Abu Kuhafah) bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Saad bin Laym bin Mun’ah bin Ka’ab bin Lu’ay,berasal dari suku Quraisy, sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salmah binti Sahr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah. Garis keturunannya bertemu pada neneknya, yaitu Ka’ab bin Sa’ad.

    Abu bakar merupakan orang yang pertama kali masuk Islam ketika Islam mulai didakwakan. Baginya, tidaklah sulit untuk mempercayai ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW. Dikarenakan sejak kecil, ia telah mengenal keagungan Muhammad. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumpahkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk Islam. Tercatat dalam sejarah, dia pernah membela Nabi tatkala Nabi disakiti oleh suku Quraisy, menemani Rasul Hijrah, membantu kaum yang lemah dan memerdekakannya, seperti terhadap Bilal, setia dalam setiap peperangan dan lain-lain.

2. Awal Mula Abu Bakar di Angkat Menjadi Khalifah

    Pengorbanan Abu Bakar terhadap Islam tidak dapat diragukan. Ia juga pernah ditunjuk Rasul sebagai penggantinya untuk mengimami shalat ketika Nabi sakit. Nabi Muhammad SAW pun wafat tak lama setelah kejadian tersebut. Karena tidak ada pesan mengenai siapa penggantinya di kemudian hari, pada saat jenazah Nabi belum dimakamkan di antara umat Islam, ada yang mengusulkan untuk cepat-cepat memikirkan pengganti Nabi. Itulah perselisihan pertama terjadi pasca Nabi wafat. Perselisihan tersebut berlanjut ke perselisihan kedua saqifah Bani Sa’idah, pada kaum Anshar ini menunjukkan bahwa kaum Anshar lebih memiliki rasa kepedulian dalam hal berpolitik dibandingkan kaum Muhajirin.[1]

    Aturan-aturan yang jelas tentang pengganti Nabi tidak ditemukan, yang ada hanyalah sebuah mandate yang diterima Abu Bakar menjelang wafatnya Nabi untuk menjadi badal imam shalat. Sesuatu yang masih merupakan tanda Tanya terhadap mandate tersebut.

Baca Juga : Biografi Umar bin Khaththab Khulafaur Rasyddin Kedua

    Dalam pertemuan tersebut, sebelum kaum Muhajirin datang, golongan Khajraz telah sepakat mencalonkan Salad bin Ubadah, sebagai pengganti Rasul. Akan tetapi, suku Aus belum menjawab atas pandangan tersebut, sehingga terjadilah perdebatan di antara mereka dan pada akhirnya, Sa’ad bin Ubadah yang tidak menginginkan perpecahan mengatakan bahwa ini merupakan awal dari perpecahan. Melihat situasi yang memanas, kemudian Abu Ubaidah mengajak kaum Anshar agar bersikap tenang dan toleran, kemudian Basyir bin Sa’ad Abi An-Nu’man bin Basyir berpidato dengan mengatakan agar tiddak memperpanjang masalah ini. Dalam keadaan yang sudah tenang ini, Abu Bakar berpidato, “ini Umar dan Abu Ubaidah, siapa yang kamu kehendaki di antara mereka berdua, maka bai’atah”.

    Baik Umar maupun Abu Ubaidah merasa keberatan ataas ucapan Abu Bakar dengan mempertimbangkan berbagai alasan, diantaranya adalah ditunjuknya Abu Bakar lebih berhak sebagai pengganti Rasul dalam imam shalat dan ini membuat Abu Bakar lebih berhak menjadi pengganti Rasulullah SAW. Sebelum keduanya membai’at Abu Bakar, Basyir bin Sa’ad mendahuluinya, kemudian diikuti Umar dan Abu Ubaidah secara serentak oleh semua hadirin.

    Dari paparan diatas, terlihat bahwa Abu Bakar dipilih secara aklamasi, walaupun tokoh-tokoh lain tidak ikut membai’atnya, misalnya Ali bin Abi Thalib Abbas, Thalhah, dan Zubair yang menolak dengan hormat. Keadaan penolakan tersebut akhirnya baru muncul setelah pada pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Kelompok lain yang tidak menyetujuinya ialah Anshar Salad bin Ubadah meskipun pada akhirnya tenggelam dalam sejarah. Pembahasan tentang khalifah ini pada akhirnya menimbulkan berbagai aliran pemikiran dalam islam. Dengan terpilihnya Abu Bakar serta pembai’atannya, resmilah berdiri kekhalifahan pertama didunia Islam.


3. Peradaban Islam Pada Masa Abu Bakar


    Bentuk peradaban yang paling besar dan luar biasa dan merupakan satu kerja yang dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah penghimpunan Al-Qur’an. Abu Bakar memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Qura’an dari pelepah kurma, kulit binatang, dan dari hapalan kaum muslimin. Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk menjaga kelestarian Al-Qur’an pada perang yamamah. Umarlah yang mengusulkan pertama kali penghimpunan Al-Qur’an ini. Sejak itulah Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf. Inilah untuk pertama kalinya Al-Qur’an dihimpun. 

    Selain itu, peradaan Islam yang terjadi pada praktik pemerintahan Abu Bakar Dalam bidang pranata social ekonomi Mewujudkan keadilan dan kesejahteraan social rakyat. Untuk kemaslahatan rakyat ini, ia mengelola zakat, infak, dan sedekah yang berasal dari kaum muslimin, ghanimah harta rampasan perang dan jizyah dari warga Negara non-muslim, sebagai sumber pendapatan Baitul Mal. Penghasilan yang diperoleh dari sumber-sumber pendapat negara ini dibagikan untuk kesejahteraan para tentara, gaji para pegawai Negara, dan kepada rakyat yang berhak menerimanya sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an. Diriwayatkan bahwa Abu Bakar sebagai khalifah tidak pernah mengambil atau menggunakan uang dari Baitul Mal. Karena menurutnya, ia tidak berhak mengambil sesuatu dari Baitul Mal umat Islam. Oleh Karena itu, selama ia menjadi khalifah, ia tetap berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.

    Hal lain yang terjadi pada peradaban Islam pada masa Abu Bakar adalah ia telah mensuksesi kepemimpinan dalam menunjuk Umar bin Khathab sebagai penggantinya Ada beberapa faktor yang mendorong Abu Bakar untuk menunjuk atau mencalinkan Umar menjadi khalifah. Factor utama adalah kekhawatirannya akan terulang kembali peristiwa yang sangat menegangkan di Tsaqifah Bani Saidah yang nyaris menyulut umat Islam ke jurang perpecahan, bila tidak menunjuk seseorang yang akan menggantikannya. Pada saat itu, antara kaum Anshar dan Muhajirin saling mengklaim sebagai golongan yang berhak untuk menjadi khalifah. Lagi pula, pada saat itu, umat Islam dibawah pimpinannya baru saja selesai menumpas kaum murtad dan sebagian pasukan mujahidin sedang bertempur di luar kota Madinah. Jika umat Islam terpecah dalam situasi demikian dalam memperebutkan jabatan khalifah, tentu akibatnya lebih fatal daripada menghadapi soal pemberontakan orang-orang murtad. 
   
   Jadi, dengan jalan penunjukkan itu, ia ingin ada kepastian yang akan menggantikannya sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi menimpa umat Islam. Artinya, dari segi politik dan pertahanan keamanan bila pergantian pimpinan tiba saatnya. Mengapa pilihannya jatuh kepada Umar? Karena menurut pendapatnya, Umar adalah sahabat senior yang mampu dan bijaksana memimpin Negara. Lagi pula, Umar disegani oleh rakyat dan mempunyai sifat-sifat terpuji. Penunjukkan itu terjadi ketika Abu Bakar mendadak jatuh sakit pada tahun ketiga masa jabatannya.[2]

4. Wafatnya Abu Bakar As-Shiddiq


    Abu Bakar meninggal pada 23 Agustus 634 Masehi dalam usia 63 Tahun, dan ke-Khalifahannya berlangsung selama 2 tahun 3 bulan 11 hari. Jenazahnya dimakamkan disamping makam Nabi.

    Pada waktu akhir perjalanan hidupnya, Abu Bakar bertanya kepada petugas Baitul Mal, berapa jumlah yang telah ia ambil sebagai uang tunjangan. Petugas itu memberi tahu bahwa beliau telah mengambil 6.000 dirham selama dua setengah tahun kekhalifahannya. Ia lalu memerintahkan agar tanah miliknya dijual dan seluruh hasilnya diberikan kepada Baitul Mal. Amanatnya sebelum mangkat itu telah dilaksanakan. Dan untuk seekor unta dan sepotong baju seharga seperempat rupee milik pribadinya, ia amanatkan agar diberikan kepada khalifah baru setelah ia meninggal dunia. Ketika barang-barang tersebut dibawa kepada yang berhak, Umar yang baru saja menerima jabatan sebagai khalifah mengeluarkan air mata dan berkata, “Abu Bakar, engkau telah membuat tugas penggantimu menjadi sangat sulit”.

    Pada malam sebelum meninggal, Abu Bakar bertanya kepada putrinya Aisyah, “Berapa jumlah kain kafan yang digunakan sebagai kain kafan Nabi?”. Aisyah menjawab, “Tiga” Seketika itu juga ia bilang bahwa, “Dua lembar yang masih melekat di badannya supaya di cuci, sedangkan satu lembar kekurangannya, yaitu lembar ketiga, boleh dibeli”. Dengan berurai air mata Aisyah berkata bahwa dia tidaklah sedemikian miskinnya, sehingga tidak mampu membeli kain kafan untuk ayahnya. Khalifah menjawab, “kain yang baru lebih berguna bagi orang yang hidup daripada bagi orang yang meninggal”.


    Banyak penghargaan yang diberikan kepada Khalifah Abu Bakar tentang kepandaiannya dan kebaikan hatinya. Baik kawan maupun lawan memuji kesetiaannya kepada agamanya, demikian pula watak kesederhanaannya, kejujuran, dan integritas pribadinya. Jurji Zaidan, sejarawan Mesir beragama Kristen menulis: “Zaman khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan masa keemasan Islam. Khalifah-khalifah itu terkenal karena kesederhanaannya, kealimannya, dan keadilannya. Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar pada waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan, demi memajukan agama Islam. Ketika wafat, tidaklah ia memiliki apa-apa kecuali uang satu dinar. Ia juga jarang sekali menunggangi kudanya. Ia datang ke Madina untuk memimpin sembahyang berjamaah dan kembali ke Sunh di sore hari. Setiap hari Abu Bakar membeli dan menjual domba, dan mempunyai sedikit gembalaan yang sesekali harus ia gembalakan sendiri. 
    
    Sebelum menjadi khalifah, ia telah terbiasa memerah susu domba milik kabilahnya, sehingga ketika ia menjadi khalifah, seorang budak anak perempuan menyesalkan dombanya tidak ada yang memerah lagi. Abu Bakar kemudian meyakinkan anak perempuan itu bahwa ia akan tetap memerah susu dombanya, dan martabat tidak akan mengubah tingkah lakunya. Sebelum wafat, ia memerintahkan menjual sebidang tanah miliknya dan hasil penjualannya dikembalikan kepada masyarakat Muslim sebesar sejumlah uang yang telah ia ambil dari masyarakat sebagai honorarium”. 
    
    Sumber yang dapat diterima mengenai sakitnya Abu Bakar sampai meninggalnya, dengan mengacu kepada putrinya, ummul mukminin Aisyah dan kepada putranya Abdurrahman. Mereka berkata: “Abu Bakar sakit dimulai pada saat hari yang sangat dingin ia mandi, lalu selama lima belas hari ia merasa demam, tidak keluar rumah untuk melaksanakan shalat, ia meminta Ummar Ibn Khattab mengimami shalat.

    Tetapi selama dua minggu dalam sakit sampai wafatnya itu pikiran Abu Bakar selalu tertumpu pada nasib kaum muslimin, selalu membuat perhitungan dengan dirinya, apa yang telah dilakukannya sejak ia memegang pimpinan ummat. Sejak sakitnya itu kuat sekali perasaannya bahwa ajal sudah dekat, dan dia akan bertemu tuhan. Menghadapi itu ia merasa gembira, puas, karena saat itu sudah mencapai usia ketika Rasulullah berpulang ke Rahmatullah, dan dia merasa sudah melaksanakan kewajibannya kepada Allah.[3]

REFERENSI :

[1] H.I.Nurul Aen, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: CV.PUSTAKA SETIA, 2008), hlm.67-68.
[2] Ibid, 73.
[3] Kh.Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, (Jakarta: PUSTAKA FIRDAUS, 1993),hlm.15-16.


Sumber-sumber Hukum Islam

 Sumber-sumber Hukum Islam      Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Islam merupakan agama yang tegas dan bijaksana dalam menetapkan suatu...