Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Thursday, June 18, 2020

Persamaan dan Perbedaan Antara Filsafat, Ilmu dan Agama

    Antara filsafat, ilmu dan agama ketiganya sangat berkaitan dan berhubungan dalam hal mencari kebenaran yang ingin kita ketahui, manusia selalu bersifat ingin tahu tentang apa yang membuat penasaran ataupun apa yang ingin diketahuinya, lewat keingintahuannya tersebut manusia bisa menggunakan 3 metode (filsafat, ilmu dan agama) dalam mencapai suatu kebenaran.



    Dalam keterkaitan hubungan antara filsafat, ilmu dan kebenaran, terdapat pula persamaan serta perbedaan didalamnya, berikut penjelasannya: 

Persamaan : 

    Persamaan yang paling pokok dari filsafat ilmu dan agama adalah sama-sama bertujuan untuk mencari kebenaran. 

    Dalam mencari kebenaran, ilmu pengetahuan melalui metode ilmiahnya berupaya untuk mencari kebenaran. metode ilmiah yang digunakan adalah dengan cara melakukan penyelidikan atau riset untuk membuktikan atau mencari kebenaran apa yang ingin diketahuinya tersebut.
    
    Filsafat dengan juga dalam mencari kebenaran menggunakan caranya tersendiri, dimana filsafat berusaha menemukan hakikat sesuatu baik tentang alam, manusia maupun tentang Tuhan. 


    Agama juga dengan karakteristiknya tersendiri yang memberikan jawab atas segala persoalan asasi, baik itu perihal tentang alam, manusia dan Tuhan.

Perbedaan :

    Dibalik persamaan diatas, timbul suatu perbedaan yang mencolok antara ketiga aspek tersebut, dimana ilmu dan filsafat bersumber dari akal fikiran ataupun rasio manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu dari Tuhan.

    Ilmu pengetahuan dalam mencari kebenaran dapat ditelusuri dengan berbagai cara melakukannya, yaitu dengan penyelidikan (riset), pengalaman (empiri), dan bisa juga dengan percobaan (eksperimen). Kebenaran yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan dengan cara penyelidikan tersebut adalah kebenaran positif, yaitu kebenaran yang masih berlaku sampai dengan ditentukannya kebenaran atau teori yang lebih kuat dalil atau alasannya.

    Sedangkan cara filsafat dalam menemukan kebenaran atau kebijakan adalah dengan cara penggunaan akal budi atau rasio yang dimiliki manusia secara mendalam, menyeluruh, dan universal. Kebenaran yang diperoleh atau ditemukan oleh filsafat adalah murni hasil dari pemikiran (logika) manusia, dengan cara perenungan yang membuatnya berfikir secara mendalam (radikal) tentang hakikat segala sesuatu (metafisika). Kebenara filsafat adalah kebenaran spekulatif, berupa dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, riset, maupun eksperimen.


    Sementara gama mengajarkan kebenaran ataupun memberi jawaban tentang berbagai masalah asasi melalui wahyu yang diturunkan oleh Tuhan ataupun kitab suci yang berupa firman Tuhan. Kebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena ajaran agama adalah wahyu yang diturunkan langsung oleh Tuhan.





Referensi : 

A. Susanto, Filsafat Ilmu : Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Akiologis, (Jakarta :
        Bumi Aksara, 2016)

Wednesday, June 17, 2020

Teori Kebenaran : Koherensi, Korespondensi, Pragmatisme

    Ilmu, dalam upaya untuk menemukan kebenaran, mendasarkan dirinya kepada beberapa kriteria kebenaran. Kriteria tersebut atau sering juga disebut sebagai teori adalah kriteria koherensi, korespondensi dan pragmatisme.



1. Koherensi (coherence theory)

    Teori ini dikembangkan oleh kaum idealis dan sering disebut juga teori konsistensi atau teori saling berhubungan. Koherensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang konsistensi suatu argumentasi. Sekiranya terdapat konsistensi dalam alur berpikir, maka kesimpulan yang ditariknya adalah benar. Sebaliknya, jika terdapat argumentasi yang tidak bersifat konsisten, maka kesimpulan yang ditariknya adalah salah. Secara keseluruhan, argumentasi yang bersifat konsisten tersebut juga harus bersifat  koheren untuk dapat disebut benar. Artinya jalur-jalur pemikiran yang masing-masing bersifat konsisten seluruhnya, maka juga harus terpadu secara utuh (koheren), baik ditinjau dari lingkup argumentasi, maupun dikaitkan dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang dianggap benar.

    Landasan koherensi inilah yang dipakai sebagai dasar kegiatan keilmuan untuk menyusun pengetahuan yang bersifat sistematis dan konsisten. Pantasnya sebuah piramida terbalik, ilmu menyusun tubuh pengetahuannya secara konsisten berdasarkan pengetahuan ilmiah sebelumnya.

    Bockhenski berpendaapt bahwa kebenaran itu terletak pada adanya kesesuaian antara suatu benda atau hal dengan pikiran atau idea. Titus dkk berpendapat bahwa “kebenaran itu adalah system pernyataan yang bersifat konsisten secara timbal balik, dan tiap-tiap pernyataan yang bersifat konsisten secara timbal balik, dan tiap-tiap pernyataan memperoleh kebenaran dari system tersebut secara keseluruhan.

    Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori koherensi satu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya dianggap benar. Contohnya, pernyataan “diluar hujan turun”, adalah benar apabila pengetahuan tentang hujan adalah (air yang turun dari langit) bersesuaian dengan keadaan cuaca yang mendung, gelap dan temperature dingin dan fakta-fakta yang menunjang. 


Kesimpulan teori koherensi:

Kebenaran adalah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah
        lebih dahulu kita ketahui.

Teori ini dinamakan juga teori justifikasi atau penyaksian tentang kebenaran, karena menurut teori ini
        suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian-penyaksian atau jutifikasi oleh putusan-
        putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui, diterima, diakui kebenarannya.

Ukuran dari teori ini adalah konsistensi dan persisi.

2. Korespondensi (corespondance theory)

    Dimana eksponen utamanya adalah Bertrand Russel (1872-1970). Korespondensi merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan objek yang dikenai pernyataan tersebut. Artinya, bila kita menyatakan bahwa “gula itu rasanya manis” maka pernyataan itu adalah benar sekiranya dalam kenyataannya gula itu rasanya memang manis. Sebaliknya jika kenyataan tidak sesuai dengan materi pernyataan yang dikandungnya, maka pernyataan itu adalah salah.

    Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang berselaras dengan realitas, yang serasi dengan situasi actual. Titus dkk berpendapat “kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta itu sendiri.

    Ilmu tidak saja mengandalkan pikiran dalam menyusun pengetahuan yang bersifat rasional, konsisten dan sistematis berdasarkan kriteria koherensi, tetapi sekaligus juga mengandalkan panca indra untuk menguji apakah pernyataan yang dihasilkan oleh proses berpikir tersebut juga sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya berdasarkan kriteria korespondensi.

    Dengan demikian pengetahuan ilmiah bukan saja merupakan tubuh pengetahuan yang bersifat rasional, konsisten dan sistematis tetapi juga telah teruji kebenarannya. Sifat-sifat inilah yang membentuk ilmu menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan, yang memungkinkan ilmu menempati kedudukan terhormat dalam deretan pengetahuan yang ada sekarang ini. 


Kesimpulan teori Korespondensi:

Menurut teori ini kita mengenal 2 hal yaitu, pernyataan dan kenyataan.
Kebanaran adalah kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan itu sendiri. 

3. Pragmatisme (Pragmatic theory)

    Teori ini dicetuskan oleh Charles S. Pierce (1839-1914). Teori ini menganggap suatu pernyataan teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia. 

    Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), dan akibat yang memuaskan (statisfactory consequence). Oleh karena itu, tidak ada kebenaran yang mutlak atau tetap, kebenarannya tergantung pada kerja, manfaat dan akibatnya.

    Pragmatisme adalah hal yang mengagumkan bahwa ilmu dan teknologi memegang peran penting dalam membentuk peradaban manusia dewasa ini. Boleh dikatakan bahwa tidak ada pilihan lain bagi setiap bangsa yang ingin membangun kehidupannya, selain menguasai ilmu dan teknologi tersebut. Namun demikian, kebenaran ilmiah tidaklah bersifat mutlak, melainkan bersifat pragmatis. Suatu kebenaran ilmu dalam kurun waktu tertentu, mungkin saja akan dipandang salah dalam kurun waktu yang lain. Bagi kegiatan keilmuan, hal ini bukan merupakan masalah, karena dalam menilai kegunaan pengetahuan yang disusunnya, ilmu mendasarkan diri kepada kriteria pragmatisme.

    Pragmatisme merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang berfungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Jadi, bila suatu teori keilmuan secara fungsional mampu menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala alam tertentu, maka secara pragmatis teori itu adalah benar. Sekiranya dalam waktu yang berlainan muncul teori lain yang (lebih) fungsional, maka kebenaran kita alihkan kepada teori baru tersebut. Secara pragmatis, dunia keilmuan memberikan preferensi kepada teori yang bersifat umum (universal) dibandingkan denga teori-teori sebelumnya. 

Kesimpulan Teori Pragmatis:

    Kebenaran suatu pernyataan dapat diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat pragmatis atau fungsionalis dalam kehidupan. 

    Bagaimanapun, ilmu sekedar alat yang berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala alam. Bila suatu pengetahuan ilmiah bersifat fungsional dalam kurun waktu tertentu, yang mencerminkan situasi peradaban manusia waktu itu, maka secara relative pengetahuan itu adalah benar.



Referensi :

Syafaruddin, Filsafat Ilmu, (Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2008),

Pengertian Pengetahuan, Jenis dan Fungsinya - Filsafat Ilmu

Pengertian Pengetahuan, Jenis dan Fungsinya - Filsafat Ilmu


    Istilah ilmu dan pengetahuan diambil dari bahasa Arab, alima, ya’lamu, ‘ilman yang berarti mengerti dan memahami benar-benar. Dalam bahasa Inggris istilah ilmu berasal dari kata Science, yang berasal dari bahasa latin Scienta dari bentuk kata kerja scire, yang berarti mempelajari dan mengetahui. Untuk lebih lanjut akan kita ulas dari beberapa sumber pengertian, jenis-jenis dan fungsi pengetahuan dibawah ini.



Pengertian Pengetahuan


    Pengetahuan adalah segala hal yang diketahui manusia sebagai proses dan produk dari rasa dan kapasitasnya untuk mengetahui sesuatu. Umumnya pengetahuan seseorang tentang sesuatu dimulai dari adanya rangsangan dari suatu objek. Rangsangan itu menimbulkan rasa ingin tahu (curiosisity) yang mendorong seseorang untuk melihat, menyaksikan, mengamati, mengalami dan sebagainya.

    Pengetahuan manusia dapat dibeda-bedakan dari berbagai segi. Dari segi asalnya, ada pengetahuan yang berasal dari indera, yang disebut pengetahuan indrawi (sensual knowledge) kita tahu bahwa bunga mawar di kebun rumah kita berwarna merah, berkat indra  mata. Harum semerbak berkat indra penciuman. Berduri berkat kulit kita pernah menyentuhnya.

    Dari himpunan berbagai cerapan pengetahuan indrawi, manusia kemudian berpikir dan berpikir, hingga ia menyimpulkan dan menghimpun pengetahuan hasil olahan otak yang berpikir. Pengetahuan jenis ini sering disebut pengetahuan rasional (rational knowledge).

    Disamping indra dan akal, manusia juga dilengkapi oleh hati, kalbu dan nurani. Hasil cerapan indera kemudian ditnggapi dan disikapi oleh rasa manusia. Supaya jelas, mari kita lihat kembali bunga mawar tadi. Dengan melihat bunga mawar yang indah dan wanginya yang semerbak, timbullah appresiasi dan inspirasi untuk menuangkannya dalam karya seni, baik lukisan maupun puisi. Inilah yang disebut karya seni (art work).
Manusia adalaah satu-satunya makhluk hidup yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Makhluk lain seperti binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuannya sebatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama, yakni:

Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar
        belakangi informasi tersebut.
Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan bagus karena mempunyai kemampuan
        berpikir menurut satu alur tertentu.

    Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut dengan penalaran. Binatang atau hewan mampu berpikir namun tidak mampu berpikir nalar. Insting binatang jauh lebih peka dari pada insting insinyur geologi, binatang atau hewan sudah jauh-jauh mencari tempat untuk perlindungan yang aman sebelum gunung meletus. Namun binatang tidak bisa menalar tentang gejala tersebut mengapa gunung meletus, faktor apa yang menyebabkan gunung itu meletus dan apa yang dilakukan untuk mencegah semua itu terjadi.

    Dua kelebihan inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya yakni, bahasa yang bersifat komunikatif dan pikiran yang mampu menalar. Tentu saja tidak semua pengetahuan berasal dari proses penalaran, sebab berpikirpun tidak semua berdasarkan penalaran. Manusia bukan semata-mata makhluk yang berpikir, sekerdar homo sapiens yang steril. Manusia adalah makhluk yang berpikir, merasa, mengindra dan totalitas pengetahuannya berasal dari ketiga sumber tersebut, disamping wahyu, yang merupakan komunikasi yang pencipta dengan makhluknya. Jadi dasar-dasar pengetahuan itu ada empat yaitu penalaran, logika, sumber pengetahuan dan kriteria kebenaran.


Pengetahuan Menurut Beberapa Ahli

Harun Nasution (1985)

Berpendapat bahwa pengetahuan pada hakikatnya adalah keadaan mental (mental state). Mengetahui sesuatu ialah menyusun pendapat tentang sesuatu itu, dengan kata lain menyusun gambaran dalam akal tentang fakta yang ada.

Dr. Mohammad Hatta 

Menulis bahwa pengetahuan yang didapat dari pada pengalaman disebut “pengetahuan pengalaman” atau ringkasnya “pengetahuan”. Pengetahuan yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu.

Dr M.J. Langeveld

Guru besar di “Rijk Universiteit” Utrecht, ini mengatakan bahwa pengetahuan itu adalah kesatuan subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui. Suatu kesatuan dalam mana obyek itu dipandang oleh subyek sebagai diketahuinya.

James K.Feibleman 

Merumuskan,  pengetahuan sama dengan hubungan antara objek dan subjek.

Max Scheler (1874-1928) 

filsuf bangsa jerman, berpendapat bahwa pengetahuan dapat dirumuskan sebagai partisipasi oleh suatu ralita dalam suatu realita yang lain, tetapi tanpa terjadinya modifikasi-midifikasi dalam kualitas yang lain itu. Sebaliknya subyek yang mengetahui, dipengaruhi.


Jenis-jenis Pengetahuan


Pengetahuan manusia dapat pula dikategorikan kepada tiga jenis, yaitu:

a. Pengetahuan indrawi

    Pengetahuan ini meliputi semua fenomena yang dapat dijangkau secara langsung oleh pancaindra. Kita tahu bahwa bunga mawar di kebun rumah kita itu berwarna merah, berkat indra mata. harum semerbak berkat indra pencuiman. Berduri karena kulit kita pernah menyentuhnya. Batas pengetahuan ini adalah sesuatu yang tidak tertangkap oleh pancaindra. Kedudukan knowledge ini adalah penting sekali, karena ia merupakan tangga untuk menuju ilmu.

b. Pengetahuan keilmuan

    Pengetahuan ini meliputi semua fenomena yang dapat diteliti dengan riset atau eksperimen, sehingga apa yang berada di balik knowledge bisa terjangkau lagi oleh rasio, atau otak dan pancaindra.

c. Pengetahuan falsafi

    Pengetahuan ini mencakup segala fenomena yang tak dapat diteliti, tetapi dapat dipikirkan. Seperti halnya dengan bunga mawar tadi, dengan melihat bunga mawar yang indah dan wanginya yang semerbak, timbullah appresiasi dan inspirasi untuk menuangkannya dalam karya seni, baik lukisan maupun puisi.

    Hendrik Rapar, mengemukakan bahwa jenis pengetahuan itu dibagi tiga. Sedangkan Burhanuddin Salam, sebagaimana dikutip oleh Amsal Bakhtiar jenis pengetahuan ada empat, yaitu:

Pengetahuan biasa

    Pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan sebagai (common sense), dan sering diartikan sebagai (good sense), karena seseorang memiliki Sesuatu di mana ia menerima secara baik. Semua orang menyebut warna ini putih karena memang itu putih. Air itu panas karena memang dipanasi dengan api. Makanan bisa mengganjal rasa lapar, dll. Common sense diperoleh dari pengalaman sehari-hari. Pengetahuan ini disebut dengan pengetahuan pra ilmiah dan nir ilmiah.

Pengetahuan ilmu (science) 

    Adalah pengetahuan yang diperoleh lewat penggunaan metode-metode ilmiah yang lebih menjamin kepastian kebenarannya. Ilmu pada hakikatnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan commons sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. 

Pengetahuan filsafat. 

    Diperoleh lewat pemikiran rasional yang didasarkan pada pemahaman, spekulasi, penilaiaan kritis dan penafsiran. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigit, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis, sehingga ilmu yang tadinya kaku dan cenderung tertutup menjadi longgar kembali.

Pengetahuan agama 

    Pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan, yang disering disebut dengan hubungan secara vertikal (hablun min Allah), dan cara berhubungan dengan sesama manusia (hablun min al-nas). Pengetahuan agama yang paling penting adalah pengetahuan tentang tuhan, selain itu tentang keyakinan (keimanan) dan syariat (implementasi dari keyakinan). Pengetahuan ini sifat kebenarannya adalah mutlak karena berasal dari firman Tuhan dan sabda Nabi.

    Gabungan dari berbagai pengetahuan atas indrawi, seni dan rasional, lalu diolah, dipikirkan, direnungkan dan dicari hakikatnya secara mendalam, sistematis, radikal dan universal. Pengetahuan tingkat ini disebut pengetahuan filsafat (philosophical knowledge).

    Pengetahuan pada dasarnya membicarakan pada tiga hal, yaitu: alam, Tuhan, dan Manusia. Semua objek tersebut masuk dalam kognitif manusia sehingga dia memiliki tahu dalam berbagai macam bidang yang kemudian diklarifikasikannya sendiri sesuai kreativitas dirinya terhadap pengetahuan, kebudayaan dan peradaban


Fungsi Pengetahuan


    Pengetahuan (knowledge) adalah proses dan hasil cerapan tahu manusia secara umum. Setelah ini, semua disistematiskan, disusun rapi dan ditata menurut metode dan sistematika tertentu, maka disebut ilmu pengetahuan (scine dalam arti luas). Ilmu pengetahuan manusia itu dibagi atas tingkatan tertentu sebagai berikut :

Ilmu pengetahuan deskriptif.
Ilmu pengetahuan normatif.
Ilmu pengetahuan kausal.
Ilmu pengetahuan essensi.

    Ilmu pengetahuan deskriptif memberikan jawaban atas pertanyaan apa (What is it?) dan bagaimana (How is it?). Sedangkan ilmu pengetahuan normative menjawab pertanyaan seharusnya bagaimana (How it Should be). Ilmu pengetahuan kausal berupaya menjawab pertanyaan apa yang terjadi jika dua fenomena atau lebih dihubungkan. Contohnya ilmu alam, menyelidiki apa reaksi dan relasasi antara berbagai obyek dan fenomena alam. Ilmu ekonomi, misalnya, meneliti apa hubungan persediaan dan permintaan (supply and demand) dalam mekanisme pasar. Ilmu pengetahuan essensi berupa mengungkapkan hakikat dari segala sesuatu.


    Ilmu pengetahuan tidak diciptakan untuk maksud mendirikan atau merobohkan satu bagian tertentu dari kepercayaan (iman), tetapi hanya untuk menguji dengan kritis apa saja yang datang kepadanya di dalam dunia wajar dan untuk mengakui realitasnya secara jujur. Jadi fungsi ilmu pengetahuan dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Fungsi Deskriptif

Yaitu menggambarkan, melukiskan, dan memaparkan suatu objek atau masalah sehingga mudah dipelajari oleh peneliti.

2. Fungsi Pengembangan

Yaitu melanjutkan hasil penemuan yang terdahulu dan menemukan hasil ilmu pengetahuan yang baru.

3. Fungsi Prediksi

Yaitu meramalkan kejadian-kejadian yang besar kemungkinan terjadi sehingga manusia dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu dalam usaha menghadapinya.

4. Fungsi Kontrol
Yaitu berusaha mengendalikan peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki.



Referensi :

Nur A. Fadhil Lubis, Pengantar Filsafat Umum, (Medan: IAIN PRESS, 2011).

Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rizki Muhammad Haris, Filsafat Ilmu, (Depok: PT Raja Grafindo 
    Persada, 2017).

Syafaruddin, Filsafat Ilmu, (Bandung: CITA PUSTAKA MEDIA PERINTIS, 2008).

Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1982).

Friday, June 12, 2020

Pengertian Filsafat, Ciri-ciri, dan Cabang-cabangnya - Filsafat Ilmu

Pengertian Filsafat, Ciri-ciri, dan Cabang-cabangnya - Filsafat Ilmu


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Manusia filosofis adalah manusia yang memiliki kesadaran diri dan akal sebagaimana ia juga memiliki jiwa yang independen dan bersi . Secara umum filsafat berarti upaya manusia untuk memahami segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan kritis. Berarti filsafat merupakan sebuah proses bukan sebuah produk. Maka proses yang dilakukan adalah berpikir kritis yaitu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti pronsip-prinsip logika untuk mengerti dan mengevaluasi suatu informasi dengan tujuan menentukan apakah informasi itu diterima atau ditolak. 



PENGERTIAN FILSAFAT


Filsafat berasal dari kata Yunani yang tersusun dari dua kata, philein dalam arti cinta, dan shops dalam arti hikmat (wisdom). Orang arab memindahkan kata Yunani philosophia kedalam bahasa mereka dengan menyesuaikan dengan tabiat susunan kata-kata Arab yaitu: falsafah dengan pola: fa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Dengan demikian kata benda dari kata kerja falsafa seharusnya falsafah dan filsafat.

Menurut catatan sejarah, kata ini pertama kali digunakan oleh phytagoras, seorang filosof yunani yang hidup pada 582-496 sebelum Masehi. Cicero (106-43 SM), seorang penulis romawi terkenal pada zamannya dan sebagian karyanya masih dibaca hingga saat ini, mencatat bahwa kata filsafat dipakai Phytagoras sebagai reaksi terhadap kaum cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ahli pengetahuan, Phytagoras menyatakan bahwa pengetahuan itu begitu luas dan terus berkembang. Tiada seorangpun yang mungkin mencapai ujungnya. Jadi jangan sombong menjuluki diri kita ahli dan menguasai ilmu pengetahuan, apalagi kebijaksanaan. Kata Phytagoras, kita ini lebih cocok dikatakan sebagai penari dan pecinta pengetahuan dan kebijaksanaan, yakni filosof.

filsafat bisa dibilang tatanan cara berfikir ilmiah, sistematis, radikal dan universal. Ilmiah artinya mempunyai kaidah dan prosedur keilmuan, sistematis artinya ada aturan yang tertata dengan rapi, radikal artinya berfikir mendalam sampai ke akar akarnya, universal artinya menyeluruh ke segala aspek kehidupan.

Berfilsafat diawali dengan keinginan untuk berfikir tentang ketahuan dalam diri kita. Ketahuan kita tentang:

Apa yang disebut benar dan salah = logika.
Apa yang disebut dengan baik dan buruk = etika.
Apa yang disebut dengan indah dan jelek = estetika.

Melalui filsafat adalah tahu apa yang harus dipikirkan dari tahu apa yang tidak harus dipikirkan. Manusia digolongkan dalam kerja pikirannya menjadi empat golongan, yakni:

Ada manusia, dia tahu bahwa dia tahu, maka dia dapat diikuti (menjadi tempat bertanya).
Ada manusia, tahu bahwa dia tidak tahu, maka dia dapat diajari untuk menjadi tahu.
Ada manusia, tidak tahu bahwa dia tahu, maka dia harus digugah dan dibangunkan agar dia mencari tahu.
Ada manusia, tidak tahu bahwa dia tidak tahu, maka dia harus diperingatkan untuk berusaha menjadi tahu.


CIRI-CIRI BERFIKIR FILSAFAT


Berfilsafat itu berfikir, tapi tidak semuanya itu berpikir dikatakan berfilsafat. Berpikir non falsafi dibedakan menjadi dua, yaitu:

Berpikir Tradisional

Berpikir tradisional, yaitu berpikir tanpa mendasarkan pada aturan-aturan berpikir ilmiah. Artinya berpikir yang hanya mendasarkan pada tradisi atau kebiasaan yang sudah berlaku sejak nenek moyang, sehingga merupakan warisan lama.

Berfikir Ilmiah

Berfikir Ilmiah yaitu berfikir yang memakai dasar-dasar/aturan-aturan pemikiran ilmiah, yang diantaranya:
a. Metodis
b. Sistematis
c. Objektif
d. Umum.

Berfilsafat termasuk dalam berfikir namun berfilsafat tidak identic dengan berpikir. Sehingga, tidak semua orang yang berpikir itu mesti berfilsafat, dan bisa dipastikan bahwa semua orang yang berfilsafat itu pasti berfikir. Misalnya, seorang siswa yang berpikir bagaimana agar bisa lulus dalam Ujian Akhir Nasional (UAN), maka siswa ini tidaklah sedang berfilsafat atau berfikir secara filsafat, melainkan berpikir biasa yang jawabannya tidak memerlukan pemikiran yang mendalam dan menyeluruh. Oleh karena itu, ada beberapa ciri berpikir secara filsafat, yaitu:

1. Metodis 
Menggunakan metode, cara, jalan yang lazim digunakan oleh para filsuf dalam proses berpikir filsafati.

2. Sistematis
Dalam berpikir, masing-masing unsur saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan, sehingga dapat tersusun suatu pola pemikiran yang filosofis.

3. Koheren
Dalam berpikir unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian yang bertentangan satu sama lain, namun juga memuat uraian yang logis.

4. Rasional
Harus mendasar pada kaidah berpikir yang benar (logis).

5. Komprehensif
Berpikir secara menyeluruh, artinya melihat objek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang, melainkan secara multimediasional. Disinilah perlunya filsafat dan ilmu pengetahuan saling menyapa dan menjenguk.

6. Radikal
Berpikir secara mendalam, sampai akar yang paling ujung, artinya sampai menyentuh akar persoalannya, esensinya.

7. Universal
Muatan kebenarannya sampai tingkat umum universal, mengarah pada pandangan dunia, mengaruh pada realitas hidup dan realitas.


CABANG FILSAFAT


Ketika kita membahas fasal riwayat filsafat antara lain kita singgung, bahwa dalam satu masa filsafat mencakup semua ilmu-ilmu khusus, dan bahwa dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya, filsafat.

Selama dan setelah renaissance, matematika dan fisika melepaskan diri dari filsafat. Selanjutnya ilmu-ilmu lainnya pun menyusul memisahkan diri pula dari induknya. Psikologi menjadi ilmu yang terlepas dari filsafat pada masa belakangan ini, malahan di beberapa institute psikologi masih terpaut dengan filsafat.

Setelah filsafat ditinggalkan oleh anak-anaknya (ilmu-ilmu khusus), filsafat tidak mati, tetapi hidup dengan corak baru, yaitu sebagai “ilmu istimewa” yang mencoba memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah, apa-apa sajakah yang masih merupakan bagian dari pada filsafat dalam coraknya yang baru ini.persoalan ini membawa kita kepada pembicaraan tentang cabang-cabang filsafat.
Setiap ahli dilsafat mempunyai pembagian filsafat yang satu sering berbeda dari yang lainnya. Berikut adalah beberapa macam diantara pendapat para ahli:

Dr M.J. Langeveld

Menulis, maka filsafat dapat kita berikan sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari tiga lingkungan masalah, yaitu:

1. lingkungan masalah-masalah keadaan (metafisika manusia, alam dan seterusnya).
2. Lingkungan masalah-masalah pengetahuan (wissenschaftslehre: teori kebenaran, teori pengetahuan, logika).
3. Lingkungan masalah-masalah nilai (teori nilai, etika, estetika, yang bernilai berdasarkan religi).

Prof Alburey Castell 

Guru besar filsafat di University of Oregon, membagi masalah-masalah filsafat atas enam bagian, yaitu:

1. Theological Problem (masalah Teologis).
2. Metaphysical Problem (masalah Metafisika).
3. Epistemological Problem (masalah Epistemologi).
4. Ethical Problem (masalah Etika).
5. Political Problem (masalah Politik).
6. Historical Problem (masalah Sejarah).

Dr. Richard H.Popkin dan Dr. Avrum Astroll

Dalam buku mereka bersama berjudul Phylosophy made simple membagi pembahasan mereka atas tujuh bagian (yang diberinya nama Section), yaitu:

1. Section I Ethies (Etika).
2. Section II Political Philosophy (Filsafat Politik).
3. Section III Metaphysics (Metafisika).
4. Section IV Philosophy of Religion (Filsafat Agama).
5. Section V Theory of Knowledge (Teori Pengetahuan).
6. Section VI Logic (logika).
7. Section VII Contemprorary Philosophy (filsafat kontemporer). 

Harry Hamersma 

Membagi cabang-cabang filsafat menjadi empat bagian, keempat bagian itu yaitu:

1. Filsafat tentang pengetahuan:
a. Epistemologi.
b. Logika.
c. Kritik ilmu.

2. Filsafat tentang kenyataan menyeluruh:
a. Metafisika umum (ontology)
b. Metafisika khusus
        a) Teologi metafisika.
        b) Anthropologi.
        c) Kosmologi.

3. Filsafat tentang tindakan:
a. Etika.
b. Estetika.
4. Sejarah filsafat.

Berdasarkan pembagian cabang filsafat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tampak demikian luas bidang menlaahan filsafat itu. Padahal, cabang-cabang tersebut masih dapat diperinci lagi menjadi ranting-ranting, dan sebagiannya bahkan berkembang menjadi bidang filsafat yang berpengaruh. Hal ini kembali kepada ciri filsafat bahwa ia bersifat umum, universal dan iltimate (tertinggi). Jadi, ilmu apa pun difinalkan dengan pembahasan fundamen filosofis dari ilmu dan disiplin itu.



Referensi

Syarif Hidayatullah, Relasi filsafat dan Agama, dalam jurnal Filsafat: Perspektif Islam, vol.40,             Nomor 2, Agustus 2006 (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada).

Harun Nasution, Falsafat Agama, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1991).

Nur A. Fadhil Lubis, Pengantar Filsafat Umum, (Medan: IAIN Press, 2011).

Syafaruddin, Filsafat Ilmu, (Bandung: Cita Pustaka Media Perintis, 2008).

Muhammad Syukri Albani Nasution dan Rizki Muhammad Haris, Filsafat Ilmu, (Depok: PT Raja           Grafindo Persada).

Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1982),



Sumber-sumber Hukum Islam

 Sumber-sumber Hukum Islam      Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Islam merupakan agama yang tegas dan bijaksana dalam menetapkan suatu...